23 Juli, Hari Anak Indonesia beberapa media melaporkan kekerasan terhadap anak yang berujung pada kematian. Tragis!

Namun kali ini saya ingin menceritakan hal lain tentang anak-anak, yang setidaknya saya temui dua kali sehari. Pertama saat berangkat kerja dan kedua ketika pulang ke rumah.

Dekat pangkalan KWK 03 jurusan Citra Land – Meruya, di sekitar situ banyak pedangang makanan dan minuman. Mulai dari yang ringan sampai yang berat seperti es batu. Mulai dari rujak hingga Nasi Padang. Di sekitar itu juga ada kampus Universitas Tarumanegara dan agak jauh Universitas Trisakti. Tetapi deket banget dari situ ada Pos Polisi. (sepertinya Polisi Lalu Lintas) karena sering juga saya lihat para supir buskota mengambil SIM atau STNK yang ditilang.

Ada sekitar belasan anak, homeless (karena mereka tidur di emperan atau di meja-meja pedagang yang telah dilipat pada malam hari), tidak sekolah, hidup dari mengamen dan pakaian mereka kumal sekali. Anehnya, sepertinya mereka sangat menikmati “dunianya” – asyik dan enjoy dari hari ke hari. Dan mereka tidak menyadari kesuraman masa depan mereka. Disini letak tragisnya.

Selepas mengamen, dapat uang prioritas belanja mereka adalah “Lem Aibon” bukan makanan. Ketika sedang menikmati sensasi aroma lem kedua tangan mereka lenyap di balik baju. Demikian juga hidung, yang terlihat hanya mata dan berjalan agak sempoyongan.

Ya…! “ngelem” – rupanya menghirup aroma lem itu dapat menghantar mereka ke alam khayal – astaghfirulloah!!! – bukankah ini bagian dari Narkoba? Madat?

Padahal deket kantor Polisi lho?

[oh…, iya itu kan Kantor Polisi Lalu Lintas bukan Polisi Kriminal]

……”cape deh….!!!”

Iklan