oleh : Dr. Martin Leman
Sebagai orang tua, adalah sebuah kebanggaan tersendiri yang tak akan hilang bila berhasil membimbing anak dalam studi dan menjadikannya sukses. Bahkan orang tua, akan rela berusaha semaksimal mungkin dan melakukan apa saja demi membantu anak sukses dalam studinya. Tapi bagaimana caranya yang paling tepat ? Inilah yang sering menjadi masalah…..

Membantu anak dalam studi, bukanlah hal yang sederhana, bahkan bisa menjadi suatu tantangan tersendiri baik secara intelektual maupun emosional. Sebaliknya, jika kita berpendapat bahwa belajar dan membuat pekerjaan rumah adalah tanggung jawab anak dan gurunya semata, dan orang tua tidak perlu campur tangan adalah sangat tidak tepat. Belajar dan membuat pekerjaan rumah memang merupakan bagian dari proses perkembangan diri anak, di mana anak berusaha untuk meluaskan dunianya. Justru di sinilah orang tua harus berperan agar anak dapat berkembang dengan baik, dan terarah pada arah yang postif.
Pendapat bahwa keberhasilan seseorang dalam studi ditentukan sejak ia masih di sekolah dasar adalah benar. Pola belajar seseorang memang dibentuk saat ia masih duduk di tingkat sekolah dasar, sesuai dengan masanya ia mengalami perkembangan mental dan pembentukan karakternya. Di masa ini anak tidak hanya belajar tentang berhitung, membaca, atau menghafal pengetahuan umum saja, melainkan juga belajar tentang tanggung jawab, skala nilai moral, skala nilai prioritas dalam kegiatannya, dan juga soal kedisiplinan. Hal ini yang sering kita lupakan, di mana kadang kala kita sebagai orang tua “terlalu ikut campur” dalam mengerjakan pekerjaan rumah anak kita. Malah sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan guru kepada anak, malah dikerjakan oleh orang tuanya. Kita harus ingat bahwa mengerjakan pekerjaan rumah bagi seorang anak, bukanlah sekedar menyalin atau memindahkan catatan ke buku pekerjaan rumah demi sebuah nilai yang bagus di buku. Apa yang hendak dicapai dengan memberikan pekerjaan rumah selain agar ia mengulang bahan pelajaran, adalah juga untuk mendidik anak agar ia bertanggung jawab terhadap suatu tugas, untuk melatih ia mengatur jadwal, dan melatih ia mengerjakan sesuatu sendiri.
Jadi kita sebagai orang tua tidak boleh membantu ia mengerjakan pekerjaan rumahnya ? Bukan begitu, ……. permasalahannya adalah bagaimana caranya yang paling tepat. Kita tetap harus membantu anak kita dalam belajar dan mengerjakan pekerjaan rumahnya, namun dengan cara yang tepat. Berikut ini beberapa cara yang tepat dalam membantu anak belajar dan membuat pekerjaan rumahnya :
§ Mulailah dengan mengajarinya untuk belajar dan membuat PR secara teratur, dan rutin. Sebisa mungkin dijadwalkan jam berapa ia harus belajar. Dengan demikian lama-kelamaan ia akan merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang memang seharusnya ia lakukan setiap hari, dan menjadi sebuah kebiasaan. Ini juga akan membantunya saat ulangan atau ujian, di mana ia tidak belajar terlalu berat lagi menjelang hari ujian, karena bahannya sudah ia cicil sebelumnya.
§ Tanamkanlah dalam diri anak bahwa kegiatan belajar adalah sesuatu yang perlu diprioritaskan dalam kegiatan sehari-hari. Jangan kacaukan jam belajar anak dengan acara-acara seperti berbelanja ke mall, atau malah mengajaknya bermain pada saat seharusnya ia belajar. Bila anak sejak kecil merasa bahwa acara belajarnya adalah suatu acara yang dianggap penting oleh orang tuanya, ia pun akan beranggapan bahwa belajar itu memang penting.
§ Perhatikanlah bagaimana si kecil belajar. Apakah ia belajar dengan senang hati ? Atau dengan ekspresi kesal dan frustrasi ? Sebagai orang tua kita harus tanggap, apa kira-kira yang si kecil rasakan saat ia belajar. Jika ia belajar dalam suasana hati yang senang, apa yang ia pelajari akan lebih melekat dalam dirinya dan ia juga tidak merasakan berbeban untuk belajar. Bila ia tampak kesal atau tidak senang saat ia belajar, cobalah cari apa penyebabnya. Apakah ia mengalami kesulitan berkonsentrasi ? Atau ia terganggu oleh sesuatu ? Di sini orang tua harus pandai-pandai membuat suasana hati si kecil gembira saat ia belajar.
§ Jika kita melihat anak kesulitan dalam mengerjakan PR-nya, jangan ragu untuk membantunya. Bantu dia, tetapi tetaplah ingat untuk tidak mengambil alih tugas itu dari anak kita. Carilah tahu apa yang menyebabkan ia kesulitan. Apakah pertanyaannya ia tidak pahami ? ataukah karena ia tak tahu harus mencari di mana jawaban pertanyaannya ? ataukah karena sebab – sebab lain ? Dari situ kita bisa menuntun anak untuk perlahan-lahan menyelesaikan tugasnya. Sekali lagi, biarkan ia yang mengerjakannya dengan bantuan orang tua, jangan malah orang tuanya atau kakaknya yang menyelesaikan tugasnya.
§ Pujilah usahanya dalam belajar dan membuat perkerjaan rumah, bukan cuma hasil akhirnya saja. Kadang kala anak sudah berusaha susah payah mengerjakan tugasnya, tetapi hasilnya tidak sempurna. Hal ini wajar. Sangat wajar sekali, sebab justru memang itulah tujuan tugas itu diberikan, yaitu untuk mengasah ketrampilan anak. Kita pun tidak pernah mengasah pisau yang sudah tajam bukan ?
§ Berilah pujian atau penghargaan pada anak atas usaha dan susah payahnya. Jika ia merasa bahwa usaha kerasnya itu dihargai, ia akan berusaha lebih baik lagi lain kali, dan ia juga tidak akan merasa bahwa usahanya itu sia-sia belaka.
§ Aturlah agar si kecil mempunyai tempat belajar yang cukup dan nyaman. Bila ia belum punya meja sendiri, ia dapat mengerjakannya di meja makan, sambil ditemani orang tuanya. Biasanya anak yang masih kecil dan masih lekat dengan ibunya, akan merasa senang bila saat ia belajar atau mengerjakan PR nya, berada tidak jauh dari ibunya. Ia akan merasa aman dan mudah jika perlu suatu bantuan dari ibunya sewaktu-waktu.
§ Sediakanlah alat tulis menulis yang ia perlukan. Sediakan pula buku-buku yang ia butuhkan. Jika anda tidak tahu apa saja yang ia perlukan, tanyakanlah padanya atau gurunya. Tanpa tersedianya alat tulis, kertas, dan buku-buku, anak akan kesusahan saat hendak mengerjakan pekerjaan rumahnya.
§ Ajarilah anak untuk membuat jadwal kegiatannya sehari-hari. Jadwal bisa berupa kolom-kolom kalender yang ditandai kapan ada ulangan atau ujian, kapan tugas harus dikumpulkan, dan lain sebagainya. Dengan adanya kalender kegiatan ini, baik anak maupun orang tua akan dapat melihat jadwal kegiatan dengan mudah dan cepat. Bila perlu sediakan pula papan tulis kecil atau white board untuk menulis pesan atau catatan kecil.
§ Biasakan pula anak untuk memiliki agenda sekolah. Banyak sekolah dasar memang sudah mewajibkan muridnya untuk memiliki agenda sekolah. Dengan membiasakan anak menulis agenda, secara tidak langsung membiasakan anak membuat perencanaan untuk kegiatan esok harinya, atau beberapa hari kemudian. Bagi anak yang masih di SD, ada baiknya bila orang tua memeriksa agenda sekolahnya, untuk mengikuti dan memantau kegiatan belajar anak.
§ Ajak anak untuk menceritakan hari-harinya di sekolah. Biasakan anak sejak kecil untuk berbicara secara terbuka mengenai kegiatan sekolah kepada orang tua. Dengan menanyakan kegiatan di sekolahnya, anak akan merasa lebih diperhatikan, dan orang tua juga dapat memantau apa yang dialami si anak. Untuk mengajaknya bercerita, orang tua juga harus melihat situasi dan kondisi anak. Jangan ajak bicara soal ini saat anak sedang menonton acara TV kesayangannya, atau anak sedang hendak bermain dengan temannya. Anak akan malah merasa terganggu, dan kesal, dan anak akan menjawab sekenanya saja, agar cepat selesai. Gunakanlah saat – saat di mana anak juga dalam keadaan rileks, misalnya saat makan malam bersama.
§ Bila anak sedang belajar, usahakan agar tidak mengganggunya dengan cara tidak menghidupkan TV. Berikanlah suasana yang tenang bagi anak, sehingga perhatiannya tidak terganggu oleh siaran TV. Jika memang tetap hendak menyaksikan TV atau menonton video, usahakan agar suaranya tidak membuat anak terganggu atau teralih perhatiannya.
§ Ajari anak tentang cara belajar yang baik. Ajarilah ia cara membuat catatan yang rapi, dan bersih. Ajari ia cara membuat rangkuman dan catatan kecil bila ia mempelajari suatu buku, dan lain sebagainya. Bila anak diajar untuk memiliki pola belajar dengan cara yang baik dan efektif, kelak ia akan lebih mudah untuk belajar sendiri.
§ Hal yang sangat penting adalah komunikasi dengan anak. Jadikanlah diri kita sebagai orang tua dan pendengar bagi anak. Dengarkanlah dahulu apa yang dirasakan dan hendak dikatakan oleh anak. Jangan malah anak belum-belum sudah diberi nasehat bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan mengemukakan pikirannya. Jika ia mengutarakan sesuatu yang kurang sesuai dengan kemauan orang tua, jangan langsung dimarahi atau dicela. Ajaklah bicara baik-baik dan buat ia mengerti. Hal ini penting karena akan mengkondisikan anak untuk biasabicara terbuka dan tidak berbohong pada orang tua. Ia akan merasakan bahwa ia bisa bicara apa saja dengan orang tuanya. Selain itu penting juga untuk menunjukkan pada anak bahwa orang tuanya peduli padanya dan selalu bersedia membantu bila diperlukan.
§ Jika anak hendak belajar bersama temannya, dukunglah ia. Belajar bersama memang dapat membantu anak, baik dalam pelajarannya sendiri,maupun dalam perkembangan bersosialisasinya. Peran orang tua di sini adalah mengontrol apakah anak memang belajar bersama atau sekedar alasan saja untuk keluar rumah dan bermain dengan temannya. Langkah yang paling mudah untuk mengontrol anak tanpa membuatnya merasa dicurigai, adalah dengan menyediakan rumah kita sendiri sebagai tempat mereka belajar bersama. Dengan begitu, selain membuat kita bisa mengawasi apakah mereka memang belajar, juga sekaligus membuat kita bisa mengenal teman-teman si anak.
§ Kebanyakan sekolah, secara rutin mengadakan acara pertemuan antara orang tua murid dengan guru. Usahkanlah agar hadir, karena inilah kesempatan terbaik untuk bertemu guru anak kita. Kita dapat mendengar langsung dari pihak guru, bagaimana polah si anak di sekolah. Kita dapat mendiskusikan apa ada kesulitan belajar atau masalah yang di alami anak. Demikian juga saat pengambilan rapor. Kebanyakan SD dan SMP mewajibkan rapor diambil oleh orang tuanya . Ini juga merupakan kesempatan baik untuk bertemu dan berdiskusi dengan guru anak kita. Jadi…. Manfaatkanlah kesempatan ini sebaik-baiknya.
§ Sebaliknya, dengarkan juga komentar anak tentang gurunya. Tidak jarang anak mengeluh tentang gurunya. Kadang anak mengeluh guru mengajar terlalu cepat, tidak jelas, terlalu galak, dan lain sebagainya. Jangan anggap sepele komentar-komentar itu. Carilah tahu apa yang dialami sebenarnya oleh anak, karena tidak jarang komentar itu muncul sebagai awal dari masalah belajar anak. Jika ternyata memang ada masalah,pertimbangkanlah untuk bertemu dengan guru anak kita, dan diskusikan dengannya. Akan tetapi harus diingat bahwa sebelum bertemu dengan guru si anak, tanyakan dahulu pada anak, bagaimana menurutnya. Hal ini penting, terutama pada usia anak yang sudah agak besar, kebanyakan mereka merasa malu dan terlalu dicampuri urusannya oleh orang tua, bila orang tua tiba-tiba menemui gurunya di sekolah.
§ Akhirnya, hal yang tak kalah penting yang harus diingat adalah bahwa setelah anak seharian berhadapan dengan gurunya di sekolah,jangan lagi kita yang seharusnya menjadi orang tuanya malah memposisikan diri sebagai guru lagi. Jadilah “orang tua” bagi anak kita, …. Yang merupakan tidak sekedar guru, melainkan juga pendidik, pengasuh, pelindung, penolong, sekaligus sahabat yang paling memahami sang anak…. Sebuah kedudukan yang lebih tinggi dan mulia …..

Iklan